Jumat, 23 Februari 2018

Abu Nawas Sedang Hamil dan Hendak Bersalin

Abu Nawas Sedang Hamil dan Hendak Bersalin

Sultan Harun Al-Rasyid dikabarkan sedang mengalami stres berat di istana. Kabarnya pula, hal tersebut dikarenakan beliau tidak bertemu dengan Abunawas selama setengah tahun.

Hal ini membuat baginda raja menyesali perbuatannya karena telah tega mengusir penasehatnya itu. Dalam istana serasa sepi tanpa kehadiran Abunawas yang selalu bisa melucu.

Raja pun akhirnya mencabut titahnya dan menyuruh pengawal menemui Abu Nawas untuk mengajaknya ke istana.
"Mungkin Abu Nawas marah kepadaku, pergilah ke rumahnya dan ajaklah Abu Nawas menemuiku," perintahnya.

Abunawas Sedang Hamil


Pengawal Raja pun berkunjung ke rumah Abu Nawas dan di luar dugaan, Abu Nawas menolak tawaran pengawal Raja itu.
Abu Nawas mengaku tengah hamil dan hendak melahirkan.

"Tolong sampaikan kepada Raja, aku sakit dan hendak bersalin dan aku sedang menunggu dukun beranak untuk mengeluarkan bayiku ini," kata Abu Nawas sambil mengelus perutnya yang buncit.

Maka kembalilah pengawal Raja itu dan menyampaikan kabar sebenarnya.
"Ajaib benar," kata Baginda Raja dalam hati setelah mendengar laporan pengawalnya.
"Baru kali ini aku mendengar kabar seorang lelaki bisa hamil," katanya heran.



Maka Raja pun akhirnya berkeinginan menengok Abu Nawas.
Ia pergi dengan di iringi sejumlah menteri dan para punggawa ke rumah Abu Nawas.
Begitu melihat Raja datang, Abu Nawas pun berlari-lari menyambut dan menyembah kakinya.

"Ya tuanku, berkenan juga rupanya tuanku datang ke rumah hamba yang hina ini," ucap Abu Nawas.
Raja pun kemudian di persilahkan duduk di tempat yang paling terhormat.
Sementara Abu Nawas duduk bersila di bawahnya.

"Ya Tuanku, apakah yang menyebabkan Tuanku datang ke rumahku ini?" tanya Abu Nawas.
"Aku kemari karena ingin tahu keadaanmu, engkau dikabarkan sakit hendak melahirkan dan sedang menunggu dukun beranak, benarkah demikian?" jawab Raja.

Abu Nawas tidak menjawab, ia hanya tersenyum.
"Coba jelaskan perkataanmu.Siapa lelaki yang hamil dan siapa dukun beranaknya," tanya Raja lagi.
Maka dengan senang hati berceritalah Abu Nawas.

Ibarat Menjilati Ludah Sendiri


"Konon....Baginda mengusirku dari istana, tetapi setelah 6 bulan berlalu tanpa alasan yang jelas, sang Raja memanggil hamba ke istana, ini ibarat hubungan laki-laki dan perempuan yang kemudian hamil tanpa menikah. Tentu sja itu melanggar adat dan agama, menggegerkan seluruh negeri," cerita Abu Nawas.

Abu Nawas menjelaskan bahwa sebagai seorang pemimpin, seharusnya Raja tidak mengeluarkan titah yang plin-plan, tidak boleh mencabut perintahnya lagi.
Jika itu dilakukan, ibarat menjilat air ludah sendiri dan itulah tanda-tanda pengecut.




"Oleh karena itu harus berfikir masak-masak sebelum bertindak, itulah tamsil seorang lelaki yang hendak bersalin," cerita Abu Nawas menyindir Baginda Raja.
"Lalu bagaimana dengan dukun beranak itu?" tanya Baginda.

"Adapun dukun beranak yang ditunggu, adalah Baginda kemari, dengan kedatangan Baginda kemari, berarti hamba sudah melahirkan, artinya hilangnya rasa sakit atau takut hamba kepada Baginda," cetus Abu Nawas.

"Bukan begitu Abu Nawas, aku tidak sungguh-sungguh melarangmu ke istana, melainkan hanya bergurau.
Besok datanglah engkau ke istana, aku ingin bicara denganmu," titah Raja.

"Segala titah Baginda, hamba junjung tinggi tuanku," sembah Abunawas dengan takzim.
Tetapi Raja hanya menggeleng-gelengkan kepala saja.

Minggu, 30 April 2017

Perintah untuk Memenjarakan Angin

Wah kembali sang raja memberikan perintah yang tak masuk akal sekaligus unik kepada Abu Nawas. Yaitu diperintahkan untuk menangkap sekaligus memenjarakan angin.

Jika gagal, maka hukuman akan akan segera menanti. Lalu bagaimanakah cara Abu Nawas melaksakan tugas yang unik ini? Akankah beliau berhasil atau malah gagal?


Kisah ini sudah pernah diceritakan di blog ini juga, namun ditulis lagi dengan singkat oleh penulis. Bermula dari sang raja yang sakit karena seringnya beliau mengalami masuk angin.

Entah apa karena sang raja terlalu banyak bekerja keras dan kurangnya waktu istirahat atau karena sering memantau rakyatnya di malam hari, sang raja tak mau bilang.





Abu Nawas dipanggil sang raja agar segera menghadap.
"Wahai Abu Nawas, aku ingin sekali menangkap dan memenjarakan angin. Aku perintahkan kamu melaksanakan perintah ini," kata raja.
"Baik Paduka," jawab Abu Nawas.

Setelah berlalu dari hadapan raja, Abu Nawas berpikir keras bagaimana cara menangkap angin dan apa buktinya kalau angin tersebut sudah ditangkap.

Repotnya lagi, Baginda Raja hanya memberikan waktu hanya dua hari saja. Itu artinya, lusa dia sudah harus bisa menangkap si angin jahat tersebut.

Tiba-tiba saja Abu Nawas tersenyum riang. Rupanya beliau sudah menemukan cara ampuh untuk menangkap angin sekaligus membuktikannya kepada sang raja.

Pada esok lusanya, Abu Nawas segera menghadap raja.
"Apakah kamu sudah menangkap angin?" tanya raja.
"Sudah yang mulia, "jawab Abu Nawas.

Kemudian Abu Nawas mengeluarkan botol yang berwarna putih dan ditunjukkan kepada raja.
"Mana angin itu?" tanya raja.
"Di dalam botol ini yang mulia, "jawab Abu Nawas.






"Mana? Aku tak melihat apa-apa, "ujar raja.
"Ampun baginda, jika baginda ingin melihat bukti maka botol ini harus dibuka terlebih dahulu," jawab Abu Nawas.

Kemudian botol dibuka, tercium aroma tak sedap serta menyengat sekali baunya.
""Busik sekali, bau ini, "tanya raja.

Ternyata Abu Nawas dengan sengaja memasukkan aroma menyengat ke dalam botol tersebut. Tentu saja sang raja tak bisa berkutik lagi kalau Abu Nawas berhasil menangkap dan memenjarakan angin.

Minggu, 05 Maret 2017

Mimpi yang Terindah

Tamu tak diundang. Pada suatu hari, Abu Nawas kedatangan tamu yang tak diundang. Mereka bukanlah orang biasa saja, namun juga memiliki kharisma.
Yaitu si ahli yoga dan seorang lagi pendeta.

Oh ternyata mereka berdua, si tamu ini memiliki tujuan untuk menemui Abu Nawas. Rupanya mereka sangat penasaran akan kecerdikan Abu Nawas yang terkenal tersebut. Pada waktu itu Abu Nawas sedang melakukan shalat Dhuha di rumahnya.

Istrinya yang setia mempersilahkan mereka berdua untuk masuk dan duduk. Setelah Abu Nawas selesai shalat, ditemuilah mereka berdua dengan hati berbahagia.





"Kami sebenarnya ingin mengajak Anda untuk melakukan pengembaraan suci. Kalau Anda tak keberatan, ayo bergabunglah dengan kami, "kata ahli yoga.

Dengan penuh semangat Abu Nawas menerima ajakan tersebut. Kemudian pada keesokan harinya, mereka berangkat bersama. Abu Nawas memakai jubah sufi, ahli yoga dan pendeta memakai seragam mereka masing-masing.

Ketika sore hari, di tengah perjalanan, mereka diserang rasa lapar yang sangat. Maklumlah ketiganya tak membawa bekal makanan barang sedikit pun.

"Wahai Abu Nawas, bagaiman jika Anda mengumpulkan sedekah? Sementara kami mengadakan kebaktian," kata pendeta.
Abu Nawas setuju saja, mengetuk pintu dari rumah ke rumah.

Setelah dirasa cukup untuk membeli makanan, Abu Nawas segera pergi ke warung makan. Tak lama kemudian Abu Nawas menghampiri teman-temannya.

Abu Nawas mengajak mereka menyantap makanan, namun mereka menolaknya dengan alasan mereka sedang berpuasa. Abu Nawas memelaas, meminta jatahnya saja tapi tetap tidak boleh.

(Memang ada maunya).
"Bagaiman mana kalau kita mengadakan perjanjia?" kata pendeta.
Pendeta menjelaskan bahwa siapa bermimpi terbaik maka akan mendapat jatah makan terbanyak dan begitu juga sebaliknya.


Malam semakin larut, Abu Nawas tidak bisa tidur karena lapar. Setelah yakin dilihat teman-temannya tidur lelap, Abu Nawas langsung menyantap makanan hingga habis.

Keesokan harinya ketika mereka bangun, ahli yoga bercerita tentang mimpinya yang memasuki alam nirwana, dimana didalamnya ada sebuah taman indah.

Pendeta memujinya.
Pendeta bermimpi telah menembus batas ruang dan waktu, lalu bertemu dengan pencipta agamanya. Ahli yoga memuji mimpi dari pendeta.






Abu Nawas hanya diam saja.
Sekarang giliran Abu Nawas bercerita.

Menurut Abu Nawas, dia bertemu nabi Daud as yang ahli puasa. Dalam mimpinya itu, Nabi Daud menyuruh Abu Nawas agar segera berbuka puasa.

"Karena yang menyuruhku adalah nabi yang agung, aku tak berani membantahnya. Langsung saja aku bangun dan menyantap makanan yang ada di depan itu," kata Abu Nawas.

Alamak...
Sadarlah pendeta dan ahli yoga. Kini mereka kelaparan, sambil menyesal serta mengakui kehebatan betapa cerdiknya orang yang bernama Abu Nawas.

Jumat, 30 Desember 2016

Berkebun dari Istana

Sebagai putra dari mantan kadi, Abu Nawas pun ditunjuk oleh raja menjadi kadi juga menggantikan ayahnya yang telah meninggal dunia. Namun dengan sopan Abunawas menolaknya.

Meskipun Abu Nawas tidak mau, namun raja tetap gigih dan meminta Abu Nawas untuk menjadi penasehat raja. Akhirnya Abunawas menerima tawaran tersebut.

Dan karena jabatan baru tersebut, Abu Nawas harus menghabiskan waktu lebih banyak di istana karena setiap saat raja membutuhkannya untuk berdiskusi, Abu Nawas tada dan siap.

Otomatis waktu bersama dengan istrinya sangat sedikit sekali. Biasanya untuk mengobati rasa rindu, Abu Nawas mengirimkan surat kepada istrinya dan begitu pula sebaliknya.

Namun belakang ini, surat-surat yang akan dikirim rupanya telah dibaca terlebih dahulu oleh pengawal bahkan terkadang oleh ketua pengawal raja sendiri. Padahal surat tersebut bersifat privasi.



Abu Nawas geram, dan menyusun taktik agar si pembaca suratnya jera. Dan hari yang ditunggu pun telah tiba manakala sang istri menanyakan,
"Suamiku, kapan saatnya menanam di kebun kita?, "tanya istri.
"Istriku sayang, janganlah sekali-kali menanam di kebun kita karena di situ aku menyimpan rahasia negara," kata Abu Nawas.

Jawaban yang singkat tersebut membuat terkejut para pengawal raja. Secara diam-diam, para pengawal pergi ke kebun Abu Nawas dan mencangkul seluruh sudut kebun tersebut.

Namun apa yang terjadi?
Mereka tak menemukan apa-apa selain lelah, keringat bercucuran saja.

Cangkulan Gratis


Pada keesokan harinya, istri Abu Nawas kembali mengirimkan surat dan mengabarkan kejadian yang terjadi di kebun. Surat tersebut kembali disensor oleh pengawal.

Begini isi suratnya,
Suamiku, kemarin beberapa prajurit dan pengawal raja datang datang ke rumah serta menggali setiap sudut kebun kita."




Balasan surat,
"Nah, sekarang kebun kita sudah dicangkuli dan kita siap menanaminya."

Istri Abu Nawas kini dapat memulai menanam di kebun tanpa perlu susah payah mencangkul.

Sementara itu, rupanya raja mengetahui akan kelakuan pengawal-pengawalnya. Raja menilai pengawalnya tak memberikan data atau berita yang akurat.

Karenanya, raja memberhentikan mereka semua. Keputusan ini disambut gembira oleh Abu Nawas. Kini surat-suratnya benar-benar aman terkendali.

Rabu, 30 November 2016

Abu Nawas Disuruh Menangkap dan Memenjarakan Angin

Secara logika tugas baginda raja ini tak masuk akal sama sekali. Bagaimana mungkin seseorang bisa menangkap angin dan diperlihatkan hasil tangkapannya kepada raja.

Namun, bukanlah Abu Nawas kalau tak bisa sukses menjalankan tugas yang pelik seperti ini. Akankah Abu Nawas berhasil menunaikan titah raja?

Asal mula tugas berat ini adalah karena raja sering banget mengalami gangguan perut. Bisa dikatakan saja kalau raja sering masuk angin apalagi ketika sering bertugas ke lapangan di waktu musim dingin.

"Abu Nawas, aku ingin kamu untuk menangkap angin dan memenjarakannya, "kata raja.






Abu Nawas kaget, tugas ini tak masuk akal.
"Bagaimana cara membuktikannya kalau angin benar-benar telah aku tangkap? "guman Abu Nawas.

Abu Nawas berpikir keras karena hanya 3 hari waktu yang diberikan oleh baginda raja. Lama berpikir, Abu Nawas berguman.
"Bukankah jin itu juga tak terlihat?"

Tiba-tiba saja Abu Nawas senyum dan berjingkrak kegirangan. Rupanya beliau sudah menemukan cara untuk menangkap angin dan sekaligus membuktikannya kepada raja.


Keesokan harinya Abu Nawas menghadap raja.
"Apakah kamu sudah menangkap angin?" tanya raja.
"Sudah Tuanku, "jawab Abu Nawas sambil mengeluarkan botol dari balik bajunya.



"Mana angin itu?" tanya raja.
"Di dalam botol ini Tuanku, "jawab Abu Nawas.
"Mana? aku tak melihat apa-apa, "kata raja.

"Ampun Tuanku, memang angin tidak bisa dilihat, akan tetapi jika Paduka ingin tahu angin yang saya tangkap, maka tutup botol itu harus dibuka terlebih dahulu."

Setelah dibuka, raja mencium adanya bau tak sedap keluar dari dalam botol tersebut. Baunya sangat menyengat. Ternyata Abu Nawas sengaja memberinya angin yang busuk agar bisa tercium dengan mudah.

Senin, 31 Oktober 2016

Beginilah Cara Menaklukkan Monyet Pintar

Kiash Abu Nawas hadir lagi di akhir bulan. Kali ini betapa cerdiknya Abu Nawas dalam menaklukkan seekor monyet. Padahal monyet tersebut cukup tangguh.

Bagaimana kisahnya?
Berikut kisahnya...

Pada pagi hari yang cerah, Abu Nawas menerima sepucuk surat dari raja yang isinya adalah Abu Nawas diberi titah untuk menyelidiki kondisi rakyatnya.

Raja Harun memang terkenal bijaksana dan adil.

Dan Abu Nawas adalah tim yang terbaik untuk memeriksa kondisi masyarakat saat itu. Pada sore harinya, Abu Nawas menyisir kota untuk melihat kondisi rakyat.


Pada saat itu, ia tak menemukan sesuatu yang aneh atau mencurigakan karena memang perekonomian sedang baik. Namun pada saat ia melewati sebuah kawasan yang biasa digunakan untuk acara hajatan, tiba-tiba langkahnya terhenti.

Dilihatnya ada begitu banyak penduduk berkerumun, dan akhirnya Abu Nawas penasaran hingga melangkah ke tempat kerumunan tersebut.

Dia tanya salah satu orang tentang ada apa gerangan kok begitu banyak orang berkerumun. Ternyata kerumunan tersebut ada suatu pertunjukan yang melibatkan seekor monyet yang pintar.






"Ada pertunjukan keliling yang melibatkan seekor monyet pintar, "jawab salah satu penduduk.
"Apa maksudmu dengan monyet pintar?" tanya Abu Nawas.
"Monyet tersebut bisa mengerti bahasa manusia dan lebih hebat lagi, monyet itu hanya mau tunduk kepada pemiliknya saja, "jelas salah seorang penduduk yang satunya.

Kontan saja, jawaban dua orang penduduk tersebut membuat hati penasaran, apa iya ya. Abu Nawas langsung menuju kerumunan penduduk dan saat itu si pemiliki monyet menawarkan hadiah tinggi bagi siapa saja yang mampu membuat monyetnya mengangguk-angguk.

Maka tak heran jika banyak yang mencoba keberuntungan ini. Satu persatu maju, namun semua gagal terus karena si monyet memang sangat gigih dilatih tuannya.

Karena rasa penasaran, Abu Nawas maju ke depan.





"Tahukah siapa aku ini, " tanya Abu Nawas.
Si monyet menggeleng-gelengkan kepala.
"Apakah engkau tidak takut kepadaku? "tanya Abu Nawas.
Si monyet menggelengkan kepala.
"Apakah engkau takut kepada Tuanmu?" tanya Abu Nawas.
"Baik, jika kamu tetap diam, maka akan aku laporkan kepada tuanmu, "ancam Abu Nawas.

Secara spontan, seketika itu juga, si monyet mengangguk-anggukkan kepalanya. Sontak saja penonton bertepuk tangan karena ada yang berhasil.

Abu Nawas mendapatkan hadiah, si pemiliki monyet marah besar kepada monyetnya dan memukulinya dengan kayu.

Kamis, 29 September 2016

Abu Nawas Dituduh Mencuri

Abu Nawas memang sangat terkenal dengan kecerdikannya dalam memecahkan masalah yang pelik. Begitu juga dengan kisah yang satu ini, Abu Nawas ditimpa masalah, difitnah dan dituduh mencuri.

Akankah Abu Nawas mampu menyelesaikan perkara ini? Berikut kisahnya.

Pada suatu hari, si Fulan datang ke istana Raja Harun Ar Rasyid. Dia ini diam-diam memendam rasa dendam kepada Abu Nawas. Setelah bertemu dengan raja, maka ia pun menceritakan perihal maksud kedatangannya.

"Yang mulia, aku ingin melaporkan perbuatan buruk salah satu orang kepercayaan Anda, "kata si Fulan.
"Siapakah dia dan apa yang telah diperbuatnya? "tanya raja.
"Dia adalah orang kepercayaan Paduka, yaitu Abu Nawas. Dia telah melakukan perbuatan keji, yaitu mencuri kalung emas saya, "jawab si Fulan.

Raja pun terkejut, dan meminta si Fulan menceritakan kronologisnya.

"Begini yang mulia, sepertinya Abu Nawas sudah lama mengincar kalung emas saya. Awalnya ia ingin memebeli kalung tersebut, namun hamba tidak ingin menjualnya, "terang si Fulan.

Mendengar hasutan orang tersebut, Abu Nawas pun langsung dipanggil ke istana. Sesampainya di istana, raja memerintahkan prajurit untu memenjarakan Abu Nawas.


"Tunggu sebentar Paduka, sebenarnya ini ada apa hingga pada begitu marah kepada saya, "bela Abu Nawas sembari kebingungan.

Mendengar ucapan Abu Nawas tersebut, raja langsung murka,
"Berani sekali kamu bertanya seperti itu, bukankah kamu sudah mencuri kalung si Fulan?" bentak raja sambil menunjuk si Fulan yang tak jauh dari raja.
"Tidak Paduka, untuk apa saya mencuri kalungnya? "bantah Abu Nawas.
Abu Nawas mulai sadar bahwa dirinya telah difitnah.

"Buktinya, orang ini membawa selendang milikmu, dan aku pernah melihatnmu memakainya, "kata raja.
Abu Nawas memang pemilik selendang tersebut, namun sudah dua hari lamanya selendang tersebut hilang dicuri oleh seseorang.
Dia sudah mencoba menjelaskan beberapa kali sampai lama, namun kayaknya usahanya sia-sia saja.





Dipancung atau Digantung ?


Pada keesokan harinya, dan karena banyaknya hasutan yang dilontarkan si Fulan kepada raja, akhirnya Abu Nawas dijatuhi hukuman mati. Selain itu, baginda juga ingin menguji kepandaianh Abu Nawas dalam perkara ini.

Saatnya hukuman mati diberikan. Sesaat sebelum hukuman mati dilaksanakan, raja sempat menanyakan apa permintaan terakhir Abu Nawas ini.

Dan oh ternyata saat-saat ini yang palking ditunggu oleh Abu Nawas. Abu Nawas minta agar diberi kesempatan untuk memilih hukuman mati dirinya.

"Hamba minta bila pilihan hamba benar, hamba bersedia dihukum pancung. Tapi jika pilihan hamba dianggap salah, maka hamba dihukum gantung saja, "kata Abu Nawas memohon.
"Engkau ini memang orang yang aneh. Saat-saat genting pun masih saja sempat bersenda gurau. Akan tetapi, dsegala tipu muslihatmu tidak akan bisa menyelematkanmu, "ujar baginda.

"Hamba tidak bersenda gurau, Paduka, "kata Abu Nawas.
Raja pun semakin terpingkal-pingkal dibuatnya. Namun belum selesai raja tertawanya, Abu Nawas berteriak dengan nyaring.





"Hamba minta dihukum pancung !" "Hamba minta dihukum pancung !"

Semua orang yang hadir saat itu dibuat kaget. Mereka bertanya-tanya kenapa Abu Nawas membuat keputusan seperti itu. Sementara itu raja mulai curiga dan sekaligus mulai berpikir tentang kalimat permintaan terakhir dari Abu Nawas tadi.

"Baginda, hamba tadi mengatakan bahwa hamba akan dihukum pancung.Kalau pilihsn hamba benar, maka hamba dihukum pancung. Tetapi dimanakah letak kesalahan pilihan hamba, hingga hamba harus dihukum gantung. Padahal hamba kan memilih dihukum pancung?" jelas Abu Nawas.

Tak disangka olah kata Abu Nawas membuat raja tercengang dan menyadrinya. Dalam hati, raja mengakui kehebatan Abu Nawas. Dan selanjutnya, masalah tersebut masih diusut lagi.

Serlang beberapa hari kemudian, ternyata Abu Nawas hanya difitnah saja oleh si Fulan.